Powered by Blogger.
RSS

PROMKES


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar belakang

   Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam menghasilkan perubahan pada akhirnya.
                   ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion, 1989, 3, 3, 5)

1.      Sejarah Promosi Kesehatan

a.       Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai 1960an)
• Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan “Medisch  Hygienische Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah gerakan, untuk mendirikan “brigade sekolah” dimana-mana.
• Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar

b.      Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)
• Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan 1960
• Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)

c.       Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan
  melalui Media Elektronik (1975-1995)
• Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)
• Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)
• Munculnya Posyandu
• Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif, sinetron dll)

d.      Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)
• Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada, munculnya istilah promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986)
memuat 5 strategi pokok Promosi Kesehatan, yaitu :
Ø  Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy public policy)
Ø  Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment)
Ø  Memperkuat gerakan masyarakat (community action)
Ø  Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills)
Ø  Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services).
• Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia (1988) menekankan 4 bidang prioritas, yaitu:
Ø  Mendukung kesehatan wanita
Ø  Makanan dan gizi
Ø  Rokok dan alcohol
Ø  Menciptakan lingkungan sehat.
• Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval,
  Swedia (1991) 4 strategi kunci, yakni:
Ø  Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat;
Ø  Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan
Ø  Membangun aliansi
Ø  Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat.
• Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV di Jakarta, Indonesia (Jakarta Declaration on Health Promotion, 1991) Promosi Kesehatan abad 21 adalah :
Ø  Meningkatkan tanggung jawab sosial dalam kesehatan;
Ø  Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;
Ø  Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;
Ø  Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;
Ø  Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.

2.      Promosi Kesehatan Saat Ini

       Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.
Visi Promosi Kesehatan adalah: “PHBS 2010”, yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah
benar-benar visioner, menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang garapan Promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenanya bersifat lebih lestari.
Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah:
1)      Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat;
2)      Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya phbs di masyarakat;
3)      Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan.
Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak. Selanjutnya strategi Promosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu: Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut dengan jelas menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi. Strategi  tersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata primer adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan  atau pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS, dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat.
Ini dilakukan melalui media massa, media tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan, masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah
para pembuat keputusan dan penentu kebijakan, yang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang disebutkan di muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Promosi Kesehatan
Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menolong diri sendiri artinya bahwa masyarakat mampu berperilaku mencegah timbulnya masalah-masalah dan gangguan kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mampu pula berperilaku mengatasi apabila masalah gangguan kesehatan tersebut terlanjur terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya-upaya menfasilitasi perubahan perilaku. Dengan demikian promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan) baik di dalam masyarakat sendiri maupun dalam organisasi dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, politik dan sebagainya) atau dengan kata lain promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki lingkungan (fisik dan non-fisik) dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

B.     Tujuan Promosi Kesehatan
Tujuan Promosi Kesehatan antara lain ialah :
       Memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
       Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan
Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah kesadaran di dalam diri orang-orang tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka.

C.    Manfaat Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan bermanfaat untuk :
-          Menyadarkan masyarakat tentang pentinga kesehatan
-          Mencegah penyakit dan penularannya sebelum terjadi
-          Memberikan informasi kesehatan
-          Mengadakan penyuluhan-penyuluhan
-          Menarik perhatian masyarakat untuk dapat turut berpartisipasi dalam dunia kesehatan

D.     Sasaran Promosi Kesehatan
            Secara prinsipil, sasaran promosi kesehatan adalah masyarakat. Masyarakat dapat dilihat dalam konteks komunitas, keluarga maupun individu. Sasaran promosi
kesehatan juga dapat dikelompokkan menurut ruang lingkupnya, yakni tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum, dan
institusi pelayanan kesehatan.

E.     Prinsip-prinsip Promosi Kesehatan
            Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan, dan di pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi Kesehatan.
       Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan
       Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai perpaduan dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan  rehabilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif.
       Promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang selanjutnya disebut gerakan pemberdayaan masyarakat, juga perlu dibarengi dengan upaya advokasi dan bina suasana (social support).
       Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS yang dikembangkan dalam 5 tatanan yaitu di rumah/tempat tinggal (where we live), di sekolah (where we learn), di tempat kerja (where we work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana kesehatan (where we get health services).
       Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat
(mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.
        Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang lebih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina suasana, gerakan sehat masyarakat, dll.

F.     Metode dan Media Promosi Kesehatan
Metode dan Media Promosi Kesehatan adalah :
1.      Metode Promosi Individual
(bimbingan, penyuluhan, wawancara )
2.      Metode Promosi Kelompok
-          Kelompok Besar : Ceramah,Seminar;
-          Kelompok Kecil : Diskusi, Brain Storming, Snow Ball, Buzz Group, Role Play, permainan Simulasi
3.      Metode Promosi Kesehatan Massal
(Public Speaking, Media Massa)


G.    Masalah dalam Promkes
Permasalahan Dalam Promosi Kesehatan
1.      Pola prilaku yang susah dirubah
 Terkadang peran seorang tenaga penyuluh kesehatan yang pontang-panting digaris terdepan sosialisasi setiap program pemerintah mengalai kesulitan untuk melakkan tugasnya. Kesan atau bahasa yang ditangkap adalah upaya mendiktekan sesuatu hal tentang yang benar dan salah dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kesehatan kepada masyarakat, sementara mereka telah terbiasa dengan pola lingkungannya sebelum seorang petugas penyuluh kesehatan datang.
Tentunya bukanlah perkara mudah untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu contoh Ketika upaya menghentikan kebiasaan merokok disosialisasikan, tentunya membutuhkan pemahaman mendalam untuk menggugah kesadaran kepada setiap individu bahwasanya kebiasaan merokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Membuatkan aturan perundang-undangan tentang merokok menjadi satu pilihan, namun tidak menjadi bijak jika disertai dengan ancaman sanksi tertentu.

2.        Informasi yang menggunakan alat bantu yaitu teknologi masih sangat minim
Pengenalan karakter masyarakat ini penting dan dilatar belakangi oleh bukti-bukti bahwa masyarakat bersifat heterogen dan memiliki energi, waktu, motivasi, dan kepentingan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dalam sebuah kasus promosi kesehatan, terdapat lokasi-lokasi tertentu yang tidak memiliki ketua RT, misalnya di perumahan yang penghuninya baru pulang setelah jam 8 malam. Dapat diperkirakan bahwa rencana program penyuluhan secara oral kepada mereka akan sulit dilaksanakan. Dengan demikian, pendekatan lain bisa dilakukan misalnya melalui situs jika mereka mudah mengakses internet, atau menggunakan fasilitas mobile messaging.

3.        Kebijakan belum diterapkan
Puskesmas merupakan ujung tombak dari pelayanan kesehatan terhadap masyarakat belum memperioritaskan dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah atau dinas terkait dalah hal preventif melalui promosi kesehatan itu sendiri hal ini bisa terjadi karena kurangnya tenaga penyuluh yang memberikan penjelsan langsung kepada masyarakat.

H.    Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
            Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif), maupun rehabilitasi. Dalam hal ini, orang-orang yang sehat maupun mereka yang terkena penyakit, semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi kesehatan. Kemudian, promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan, dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, tempat-tempat umum, dan tentu saja kantor-kantor pelayanan kesehatan.
            Dari paparan di atas, tampaklah bahwa lingkup promosi kesehatan bukan semata-mata pendidikan, penyuluhan, atau serangkaian kampanye mengenai masalah kesehatan. Menurut Kapalawi, pendidikan atau penyuluhan kesehatan memang memiliki sasaran yang sama, yaitu perubahan perilaku individu atau kelompok untuk peningkatan derajat kesehatan. Namun sebenarnya keduanya hanya merupakan bagian kecil dari promosi kesehatan. Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Kapalawi, 2007).
Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi, 2008), promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Oleh karena itu, lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi, 2008):
1.    Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan.
2.    Pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye.
3.    Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi.
4.    Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
5.    Upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana, dan lain-lain di berbagai bidang/sektor, sesuai keadaan).
6.    Pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat (community development), penggerakan masyarakat (social mobilization), pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll.


I.       Kegiatan Promosi Kesehatan
1.     Promosi Kesehatan Rumah Tangga/Masyarakat
                 Beberapa jenis kegiatan dalam Promosi Kesehatan di Masyarakat, adalah :
       Penyuluhan kelompok terbatas
       Penyuluhan kelompok besar (masa)
       Penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman/peer group education)
       Pemutaran film/video
       Penyuluhan dengan metode demonstrasi
       Pemasangan poster
       Kunjungan rumah
       Lomba kebersihan antar RT/RW/Desa
       Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan tempat-tempat umum
       Kegiatan penghijauan di sekitar sumber air

2.     Promosi Kesehatan Sekolah.
                 Beberapa jenis kegiatan dalam Promosi Kesehatan Sekolah, adalah :
       Penyuluhan kelompok di kelas, penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman)
       Pemutaran film/video
       Penyuluhan dengan metode demonstrasi
       Pemasangan poster, leaflet
       Kunjungan/wisata pendidikan
       Lomba kebersihan kelas Lomba membuat poster
       Lomba menggambar lingkungan sehat
       Kampanye kebersihan perorangan/murid
       Lomba cepat tepat tentang kesehatan dan lingkungan sehat
       Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan jamban sekolah
       Penyuluhan terhadap warung sekolah, pedagang sekitar sekolah
       Pelatihan guru UKS
       Pelatihan siswa/kader UKS

J.      Lapangan Pekerjaan bagi Lulusan M.Kes
Terdapat banyak lapangan pekerjaan bagi lulusan kesehatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Lapangan pekerjaan ini antara lain:
1.      Penyuluh Kesehatan
2.      Epidemiolog Kesehatan
3.      Sanitarian Ahli
4.      Ahli Gizi Masyarakat
5.      Administrator Kesehatan
6.      Ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja
7.      Ahli Biostatistika dan Informatika Kesehatan
8.      Akademisi
9.      Pelaku industri dan kewirausahaan kesehatan
10.  Birokrat / Pengambil kebijakan di bidang kesehatan
11.  Bekerja di bidang yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan 




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
          Jadi promosi kesehatan merupakan ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat secara optimal. Promosi kesehatan sangat penting dilakukan sejak dini untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih besar. Namun dalam menjalankan promosi kesehatan, diperlukan juga fasilitas yang menunjang untuk menjangkau masyarakat dan petugas kesehatan yang aktif dan motivator.
            Selain itu bukanlah hal yang merugikan untuk kita mendalami tentang promosi kesehatan masyarakat karena selain menguntungkan orang lain juga dapat menguntungkan diri kita sendiri untuk masa depan yang lebih baik karena luasnya lapangan pekerjaan yang akan kita dapatkan.

B.     Saran
          Berbagai upaya promosi kesehatan telah dilakukan sejak dulu dengan berbagai bentuk kegiatan, seperti penyuluhan langsung kepada masyarakat, bisa juga melalui media elektronik televisi, radio dan media cetak. Berbagai bentuk spanduk, billboard, buku dan lefleat serta stiker yang berisi pesan-pesan kesehatan sejak dulu sudah diperkenalkan dan diedarkan di mana-mana.
            Namun kita lihat sampai saat ini promosi kesehatan masih belum optimal sampai di masyarkat. Kalaupun sampai, tidaklah serta merta dimengerti dan difahami oleh masyarakat luas.
            Bagaimana HIV/AIDS yang sampai saat ini belum tersosialisasi di kalangan medis sendiri, sehingga masih banyak petugas kesehatan yang masih takut menanganinya dan masih melekatnya stigma bagi pengidap HIV oleh masyarakat sekitarnya. Ini semua membuktikan bahwa upaya promosi kesehatan adalah upaya yang harus dilakukan secara terus menerus dengan berbagai metode. Salah satu metodenya adalah dengan menuliskannya dalam bentuk artikel untuk dimuat di surat kabar, majalah atau tabloid, sehingga masyarakat luas dapat membacanya.
 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: