Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ini Anjingku.. Namanya Bryan.. Main yukk.. :D

Makalah Penyakit Menular Seksual

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pemahaman individu dan masyarakat dalam mengerti PMS sangat minim. Padahal di zaman yang berkembang ini sudah cukup banyak perantara untuk menyampaikan informasi secara berkala dan meluas. Bagi individu-individu yang mengetahui dampak ataupun pehaman PMS secara menyeluruh pun tidak memperhatikan lagi konsekuensinya. Mereka cenderung acuh tak acuh dan selalu merasa menyesal saat penyakit itu telah becongkol dalam tubuhnya.
Banyaknya mahasiswa yang ada di Papua ini, dengan jumlah yang fantastis tidak jarang dari mereka berasal dari luar kota dan mendiami kota jayapura dengan tinggal  di rumah kamar sewa, rumah kamar sewa yang ada di jayapura ini tidak jarang kurang memberi peraturan jam malam dan jam berkunjung, sehingga banyak warga rumah kamar sewa yang memasukkan tamu mereka dalam kamar secara langsung. Mahasiswa yang kurang memahami pentignya menajga diri dan tata krama cenderung akan memasukkan teman yang lawan jenis sehingga tidak menutup kemungkina terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.
Dalam makalah ini kami harap kami dapat memberi sedikit pembukaan pengetahuan yang lebih dalam tentang pentingnya tidak melakukan seks bebas, keprihatinan kami pada kalangan mahasisiwa yang merupakan kaum terpelajar namun tidak sedikit pula yang tidak menggubris adanya penyakit ini dan kebayakan pula dari mereka dengan sukarala melakukan seks (oral) yang menurut mereka seks aman.


B.     Rumusan Masalah
1.         Apa itu PMS?
2.         Bagaimana penularan PMS di kalangan mahasiswa?
3.         Apa saja jenis-jenis PMS?
4.         Bagaimana pencegaha PMS di kalangan mahasiswa?

C.      Manfaat
Secara kasat mata kita dapat memahami manfaat dari pembelajaran materi ini yaitu menambah wawasan agar kita lebih bisa menjaga diri dengan baik agar terhindar dari PMS, dan sebagai mahasiswa yang lebih mengetahui tetang PMS ini hendaknya kita dapat membantu kaum masyrakat yang belum mengetahui tentang informasi PMS tersebut.


D.     Tujuan
Terdapat dua tujauan dalam pembuatan makalah ini, yaitu tujuan khusus dan tujuan umum.
1.         Tujuan khusus
-            Menambah pengetahuan
-            Member inforamsi agar perluasan PMS dapat di cegah denagn tambahan ilmu.
2.         Tujuan umum
Sebagai kewajiaban untuk melengkapai dan menjalankan tugas dari ibu dosen mikrobiologi dan parasitologi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)
Penyakit Menular Seksual merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksualitas. PMS akan lebih beresiko jika Anda melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui alat kelamin, oral maupun anal. Bila tidak ditangani secara tepat, infeksi pada alat reproduksi ini dapat menjalar dan menyebabkan sakit berkepanjangan, kemandulan, bahkan kematian.
Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual.  Menurut the Centers for Disease Control (CDC) terdapat lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun.  Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini.
Hampir seluruh PMS dapat diobati.  Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama.  PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, belum dapat disembuhkan.  Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan.  Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian.  Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan.  Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan.
Penting untuk diperhatikan bahwa kontak seksual tidak hanya hubungan seksual melalui alat kelamin.  Kontak seksual juga meliputi ciuman, kontak oral-genital, dan pemakaian “mainan seksual”, seperti vibrator.  Sebetulnya, tidak ada kontak seksual yang dapat benar-benar disebut sebagai “seks aman” .  Satu-satunya yang betul-betul “seks aman” adalah  abstinensia.  Hubungan seks dalam konteks hubungan monogamy di mana kedua individu bebas dari IMS juga dianggap “aman”.  Kebanyakan orang menganggap berciuman sebagai aktifitas yang aman.  Sayangnya, sifilis, herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat aktifitas yang nampaknya tidak berbahaya ini.  Semua bentuk lain kontak seksual juga berisiko.  Kondom umumnya dianggap merupakan perlindungan terhadap IMS.  Kondom sangat berguna dalam mencegah beberapa penyakit seperti HIV dan gonore.  Namun kondom kurang efektif dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan klamidia.  Kondom memberi proteksi kecil terhadap penularan HPV, yang merupakan penyebab kutil kelamin.
Beberapa penyakit menular seksual:
1.      Gonorea/kencing nanah
2.      Sifilis/raja singa
3.      Trikonomiasis
4.      Ulkus Mole (Chancroid)
5.      Klamidia
6.      HIV-AIDS
7.      Herpes
8.      Kutil Genitalis (Kondiloma Akuminata)
9.      Hepatitis B (HBV)

1.     Gonorea/kencing nanah
http://2.bp.blogspot.com/_KbZwjNRvI-0/S0_N93NpkJI/AAAAAAAAAVM/dfHwRyNlUCs/s320/gonorrhea.jpgNanah  pada penderita GO

Tipe: Bakterial (Neisseria gonnorhoeae)
Cara penularan: Hubungan seks vaginal, anal dan oral.
Gejala: Walaupun beberapa kasus tidak menunjukkan gejala, jika gejala muncul, sering hanya ringan dan muncul dalam 2-10 hari setelah terpapar.  Gejala-gejala meliputi discharge dari penis, vagina, atau rektum dan rasa panas atau gatal saat buang air kecil. Penyakit ini bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian.
Pengobatan: Infeksi dapat disembuhkan dengan antibiotik.   Namun tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.
1. Pada masa kehamilan, berikan antibiotika seperti : a) Ampisilin 2 gram IV dosis awal, lanjutkan dengan 3 x 1 gram per oral selama 7 hari. b) Ampisilin + Sulbaktan 2,25 gram oral dosis tunggal. c) Spektinomisin 2 gram IM dosis tunggal. d) Seftriakson 500 mg IM dosis tunggal.
2. Masa nifas, berikan antibiotika seperti : a) Xiprofloksasin 1 gram dosis tunggal. b) Trimethroprim + Sulfamethoksazol (160 mg + 800 mg) 5 kaplet dosis tunggal.
3. Oftalmia neonatorum (konjungtivitis) : a) Garamisin tetes mata 3 x 2 tetes. b) Antibiotika – Ampisilin 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Amoksisilin + asam klamtanat 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Seftriakson 50 mg/ kgBB IM dosis tunggal.
4. Lakukan konseling tentang metode barier dalam melakukan hubungan seksual.
5. Berikan pengobatan yang sama pada pasangannya.
6. Buat jadual kunjungan ulang dan pastikan pasangan & pasien akan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

Komlikasi terhadap orang yang terinfeksi:
1.   Lelaki – prostatitis (radang kelenjar prostat), adanya jaringan parut pada saluran kencing (urethra), mandul/ infertil, peradangan epididimis,
2.   Perempuan – PID, infertil, gangguanmenstruasi kronis, peradangan selaput lendir rahim setelah melahirkan (post partumendometriosis), abortus, cistitis (peradangan kandung kencing).
Bila gejala sudah meluas ke arah PID (Pelvic Inflamatory Disease) maka sering timbul :
·                      Nyeriperut bagian bawah.
·                      Nyeri pinggang bagian bawah.
·                      Nyeri sewaktu hubungan seksual.
·                      Perdarahan melalui vagina diantara waktu siklus haid.
·                      Mual-mual.
·                      Terdapat infeksirektum atau anus.
Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan jika tidak diobati, penyakit ini merupakan penyebab utama Penyakit Radang Panggul, yang kemudian dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul kronis.  Dapat menyebabkan kemandulan pada pria.  Gonore yang tidak diobati dapat menginfeksi sendi, katup jantung dan/atau otak.
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7FgoWNtzbfs8vfPpNBVwSfQQYnCWWGgd7vSg8ZiAlg1_jpFeEm3HygwIKonsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir:
Gonore dapat menyebabkan kebutaan dan penyakit sistemik seperti meningitis dan arthritis sepsis pada bayi yang terinfkesi pada proses persalinan.  Untuk mencegah kebutaan, semua bayi yang lahir di rumah sakit biasanya diberi tetesan mata untuk pengobatan gonore.




2.     Sifilis/Raja Singa
http://depts.washington.edu/nnptc/online_training/std_handbook/gallery/images/condylomata2.jpghttp://www.gettestedchicago.com/images/SymptonPenis.jpgSTD 10
Tipe: Bakterial (Treponema pallidum)
http://3.bp.blogspot.com/_zQj475e1CrI/SpX13vqxcUI/AAAAAAAAAH8/jcEciOybBkU/s400/1_sifilis.png
Cara Penularan: Cara penularan yang paling umum adalah hubungan seks vaginal, anal atau oral.  Namun, penyakit ini juga dapat ditularkan melalui hubungan non-seksual jika ulkus atau lapisan mukosa yang disebabkan oleh sifilis kontak dengan lapisan kulit yang tidak utuh dengan orang yang tidak terinfeksi.
Gejala-gejala: berlangsung 3-4 minggu, terkadang sampai 13 minggu. Setelah itu akan timbul benjolan di sekitar alat  kelamin, kadang disertai pusing dan nyeri tulang seperti flu serta hilang sendiri tanpa diobati. Bercak kemerahan pada tubuh juga akan muncul sekitar 6-12 minggu setelah berhubungan seks. Seringkali penderita tidak memperhatikan hal ini dan gejala ini akan hilang dengan sendirinya.
Pada fase awal, penyakit ini menimbulkan luka yang tidak terasa sakit atau “chancres” yang biasanya muncul di daerah kelamin tetapi dapat juga muncul di bagian tubuh yang lain, jika tidak diobati penyakit akan berkembang ke fase berikutnya yang dapat meliputi adanya gejala ruam kulit, demam, luka pada tenggorokan, rambut rontok dan pembengkakan kelenjar di seluruh tubuh.
Pengobatan: Penyakit ini dapat diobati dengan penisilin; namun, kerusakan pada organ tubuh yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Jika tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati, otak, mata, sistem saraf, tulang dan sendi dan dapat menyebabkan kematian.  Seorang yang sedang menderita sifilis aktif risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut akan meningkat karena luka (chancres) merupakan pintu masuk bagi virus HIV.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Jika tidak diobati, seorang ibu hamil yang terinfeksi sifilis akan menularkan penyakit tersebut pada janin yang dikandungnya.  Janin meninggal di dalam dan meninggal pada periode neonatus terjadi pada sekitar 25% dari kasus-kasus ini.  40-70% melahirkan bayi dengan sifilis aktif.  Jika tidak terdeteksi, kerusakan dapat terjadi pada jantung, otak dan mata bayi.
Gambar 1. Vaginitis




Penyebab : Disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis.
Gambar 2. Trichomonas vaginalis
Prevalensi: Trikomoniasis adalah PMS yang dapat diobati yang paling banyak terjadi pada perempuan muda dan aktif seksual.  Diperkirakan, 5 juta kasus baru terjadi pada perempuan dan laki-laki.
Cara Penularan: Trikomoniasis menular melalui kontak seksual. Trichomonas vaginalis dapat bertahan hidup pada benda-benda seperti baju-baju yang dicuci, dan dapat menular dengan pinjam meminjam pakaian tersebut.
Gejala-gejala: Pada perempuan biasa terjadi keputihan yang banyak, berbusa, dan berwarna kuning-hijau.  Kesulitan atau rasa sakit pada saat buang air kecil dan atau saat berhubungan seksual juga sering terjadi.  Mungkin terdapat juga nyeri vagina dan gatal atau mungkin tidak ada gejala sama sekali.  Pada laki-laki mungkin akan terjadi radang pada saluran kencing, kelenjar, atau kulup dan atau luka pada penis, namun pada laki-laki umumnya tidak ada gejala.
Pengobatan: Penyakit ini dapat disembuhkan.  Pasangan seks juga harus diobati.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Radang pada alat kelamin pada perempuan yang terinfeksi trikomoniasis mungkin juga akan meningkatkan risiko untuk terinfeksi HIV jika terpapar dengan virus tersebut.  Adanya trikomoniasis pada perempuan yang juga terinfeksi HIV akan meningkatkan risiko penularan HIV pada pasangan seksualnya.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Trikomoniasis pada perempuan hamil dapat menyebabkan ketuban pecah dini dan kelahiran prematur.
4.     Ulkus Mole (Chancroid)
http://1.bp.blogspot.com/_KYVIN7eqnmQ/Sak9sLl9RVI/AAAAAAAAAD8/699V_z3kd7U/s320/Chancroid.png
Tipe: Bakterial (Hemophilus ducreyi)

Gejala-gejala : Luka lebih dari diameter 2 cm, cekung, pinggirnya tidak teratur, keluar nanah dan rasa nyeri; Biasanya hanya pada salah satu sisi alat kelamin. Sering (50%) disertai pembengkakan kelenjar getah bening di lipat paha berwarna kemerahan (bubo) yang bila pecah akan bernanah dan nyeri.

Komplikasi yang mungkin terjadi : kematian janin pada ibu hamil yang tertular, memudahkan penularan infeksi HIV.






5.     Klamidia
Tipe: Bakterial (Chlamydia trachomatis)
C. trachomatis inclusion bodies (brown) in a McCoy cell culture.
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal dan anal.
Gejala: Sampai 75% kasus pada perempuan dan 25% kasus pada laki-laki tidak menunjukkan gejala.  Gejala yang ada meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa nyeri saat kencing baik pada laki-laki maupun perempuan.  Perempuan juga dapat mengalami rasa nyeri pada perut bagian bawah atau nyeri saat hubungan seksual, pada laki-laki mungkin akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis. Nyeri di rongga panggul; Perdarahan setelah hubungan seksual.
Pengobatan: Infeksi dapat diobati dengan antibiotik.  Namun pengobatan tersebut tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.
Konsekuensi yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan, jika tidak diobati, sampai 30% akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) yang pada gilirannya dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul kronis.  Pada laki-laki, jika tidak diobati, klamidia akan menyebabkan epididymitis, yaitu sebuah peradangan pada testis (tempat di mana sperma disimpan), yang mungkin dapat menyebabkan kemandulan.  Individu yang terinfeksi akan berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut.
Konsekuensi yang mungkin terjadi pada janin dan bayi baru lahir: lahir premature, pneumonia pada bayi dan infeksi mata pada bayi baru lahir yang dapat terjadi karena penularan penyakit ini saat proses persalinan.
6.     HIV-AIDS
http://2.bp.blogspot.com/_zQj475e1CrI/SpX3FUKBdZI/AAAAAAAAAIs/JjxzXRr4N9k/s400/SEC_SYPHILIS-2.jpg
Tipe: Viral (Human Immunodeficiency Virus)
GAMBAR 1
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; darah atau produk darah yang terinfeksi; memakai jarum suntik bergantian pada pengguna narkoba; dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungannya, saat persalinan, atau saat menyusui.
Gejala-gejala: Beberapa orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi pertama kali.  Sementara yang lainnya mengalami gejala-gejala seperti flu, termasuk demam, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, lemah dan pembengkakan saluran getah bening.  Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam seminggu sampai sebulan, dan virus tetap ada dalam kondisi tidak aktif (dormant) selama beberapa tahun.  Namun, virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem kekebalan, menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak dapat bertahan terhadap infeksi-infeksi oportunistik.
Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk infeksi ini.  Obat-obat anti retroviral digunakan untuk memperpanjang hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi.  Obat-obat lain digunakan untuk melawan infeksi oportunistik yang juga diderita.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Hampir semua orang yang terinfeksi HIV akhirnya akan menjadi AIDS dan meninggal karena komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan AIDS.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: 20-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan terinfeksi HIV juga dan gejala-gejala dari AIDS akan muncul dalam satu tahun pertama kelahiran.  20% dari bayi-bayi yang terinfeksi tersebut akan meninggal pada saat berusia 18 bulan.  Obat antiretroviral yang diberikan pada saat hamil dapat menurunkan risiko janin untuk terinfeksi HIV dalam proporsi yang cukup besar.
7.     Herpes
http://2.bp.blogspot.com/_KbZwjNRvI-0/S0_OcmnWm5I/AAAAAAAAAVc/aN2lLzhCi34/s320/sifilis.jpeghttp://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRjVT6k6LvmgMZ1PBVgMPcLu4jxfR46n8flIwTzNruH8j0dOrj7kok3Pm_Jhttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c1/SOA-Herpes-genitalis-female.jpg/190px-SOA-Herpes-genitalis-female.jpghttp://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRcYWYj40HgcK40LFKJOArQa4lBE5Kld0MwJ9oI5PWr581pfIIJgfP9XST4
Tipe: Viral (virus Varicella zoster dan herpes simplex virus )
Cara Penularan: Herpes menyebar melalui kontak seksual antar kulit dengan bagian-bagian tubuh yang terinfeksi saat melakukan hubungan seks vaginal, anal atau oral, Juga melalui seperti : alat-alat tidur, pakaian, handuk, dll, secara bergantia.  Virus sejenis dengan strain lain yaitu Herpes Simplex Tipe 1 (HSV-1) umumnya menular lewat kontak non-seksual dan umumnya menyebabkan luka di bibir.  Namun, HSV-1 dapat juga menular lewat hubungan seks oral dan dapat menyebabkan infeksi alat kelamin.Saat ini dikenal dua macam herpes yakni herpes zoster dan herpes simpleks. Kedua herpes ini berasal dari virus yang berbeda. Herpes zoster disebabkan oleh virus Varicella zoster. Zoster tumbuh dalam bentuk ruam memanjang pada bagian tubuh kanan atau kiri saja. Jenis yang kedua adalah herpes simpleks, yang disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV). HSV sendiri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu HSV-1 yang umumnya menyerang bagian badan dari pinggang ke atas sampai di sekitar mulut (herpes simpleks labialis), dan HSV-2 yang menyerang bagian pinggang ke bawah. Sebagian besar herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2, walaupun ada juga yang disebabkan oleh HSV-1 yang terjadi akibat adanya hubungan kelamin secara orogenital, atau yang dalam bahasa sehari-hari disebut dengan oral seks, serta penularan melalui tangan.
Gejala-gejala: Gejala-gejala biasanya sangat ringan dan mungkin meliputi rasa gatal atau terbakar; rasa nyeri di kaki, pantat atau daerah kelamin; atau keputihan.  Bintil-bintil berair atau luka terbuka yang terasa nyeri juga mungkin terjadi, biasanya di daerah kelamin, pantat, anus dan paha, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh yang lain.  Luka-luka tersebut akan sembuh dalam beberapa minggu tetapi dapat muncul kembali.
Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk penyakit ini.  Obat anti virus biasanya efektif dalam mengurangi frekuensi dan durasi (lamanya) timbul gejala karena infeksi HSV-2.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Orang yang terinfeksi dan memiliki luka akan meningkat risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar sebab luka tersebut menjadi jalan masuk virus HIV.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Perempuan yang mengalami episode pertama dari herpes genital pada saat hamil akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya kelahiran prematur.  Kejadian akut pada masa persalinan merupakan indikasi untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar sebab infeksi yang mengenai bayi yang baru lahir akan dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak yang serius.
8.     Kutil Genitalis (Kondiloma Akuminata)
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSVS0hINh8gyd9zvtqLIb-xa__dfyq_QIaUBe6Sjpaoq7bhZYIJJAU6jbgchttp://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTRWobuabb_4gahsg_zZozGRcSsRDq2H8-W_a_UQtqiKpStnYWDPiuM3gs
Tipe: Viral (Human Papiloma Virus)
http://htmlimg2.scribdassets.com/3ctbblsqo0623ql/images/3-6750f04210.jpg
Cara Penularan: Hubungan seksual vaginal, anal atau oral.
Gejala-gejala: Tonjolan yang tidak sakit, kutil yang menyerupai bunga kol tumbuh di dalam atau pada kelamin, anus dan tenggorokan.
Pengobatan: Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini.  Kutil dapat dihilangkan dengan cara-cara kimia, pembekuan, terapi laser atau bedah.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: HPV adalah virus yang menyebabkan kutil kelamin.  Beberapa strains dari virus ini berhubungan kuat dengan kanker serviks sebagaimana halnya juga dengan kanker vulva, vagina, penis dan anus.  Pada kenyataannya 90% penyebab kanker serviks adalah virus HPV.  Kanker serviks ini menyebabkan kematian 5.000 perempuan Amerika setiap tahunnya.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Pada bayi-bayi yang terinfeksi virus ini pada proses persalinan dapat tumbuh kutil pada tenggorokannya yang dapat menyumbat jalan nafas sehingga kutil tersebut harus dikeluarkan.
9.     Hepatitis B (HBV)
http://www.imunisasi.net/images/HPV1.jpghttp://www.imunisasi.net/images/HPV3.jpghttp://www.imunisasi.net/images/HPV4.jpghttp://www.imunisasi.net/images/HPV7.jpg
Tipe: Viral
http://www.imunisasi.net/images/HPV2.jpg
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; memakai jarum suntik bergantian; perlukaan kulit karena alat-alat medis dan kedokteran gigi; melalui transfusi darah.
Gejala: Sekitar sepertiga penderita HBV tidak menunjukkan gejala.  Gejala yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, lemah, kehilangan nafsu makan, muntah dan diare.  Gejala-gejala yang ditimbulkan karena gangguan di hati meliputi air kencing berwarna gelap, nyeri perut, kulit menguning dan mata pucat.
Pengobatan: Belum ada pengobatan.  Kebanyakan infeksi bersih dengan sendirinya dalam 4-8 minggu.  Beberapa orang menjadi terinfeksi secara kronis.
Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Untuk orang-orang yang terinfeksi secara kronis, penyakit ini dapat berkembang menjadi cirrhosis, kanker hati dan kerusakan sistem kekebalan.
Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Perempuan hamil dapat menularkan penyakit ini pada janin yang dikandungnya.  90% bayi yang terinfeksi pada saat lahir menjadi karier kronik dan berisiko untuk tejadinya penyakit hati dan kanker hati.  Mereka juga dapat menularkan virus tersebut.  Bayi dari seorang ibu yang terinfeksi dapat diberi immunoglobulin dan divaksinasi pada saat lahir, ini berpotensi untuk menghilangkan risiko infeksi kronis.
B.     AKIBAT YANG DISEBABKAN OLEH PMS:
·         Kemandulan pada pria maupun wanita yang disebabkan oleh penyebaran infeksi pada alat kelamin bagian dalam seperti gonore, klamidia.
·         Menyebabkan kematian, seperti: sifilis, hepatitis B/C, dan AIDS
·         Menyebabkan penyakit kanker (kanker leher rahim) dan penyakit yang selalu kambuh, seperrti: herpes genitalis, kondiloma akuminata (jengger ayam)
·         Khusus pada wanita hamil yang mengidap IMS tertentu bisa menularkan pada bayi yang mengakibatkan lahir cacat, lahir muda, dan lahir mati.

C.      METODE PENULARAN PMS
1. Seks tanpa pelindung
Meski kondom tidak seratus persen melindungi Anda, ia tetap merupakan cara terbaik untuk menghindarkan Anda dari infeksi. Penggunaan kondom dapat menurunkan laju penularan PMS. Selain selibat, penggunaan kondom yang konsisten adalah proteksi terbaik terhadap PMS. Biasakanlah memakai kondom.
2. Berganti-ganti pasangan
Anda tidak perlu belajar matematika untuk mengetahui bahwa semakin banyak pasangan seksual Anda, kian besar kemungkinan Anda terekspos suatu PMS. Apalagi, orang yang suka berganti pasangan cenderung memilih pasangan yang suka berganti pasangan pula. Jadi, Anda tidak lepas dari pasangan-pasangannya pasangan Anda.
3. Mulai aktif secara seksual pada usia dini
Kaum muda lebih besar kemungkinannya untuk terkena PMS daripada orang yang lebih tua. Ada beberapa alasannya, yaitu wanita muda khususnya lebih rentan terhadap PMS karena tubuh mereka lebih kecil dan belum berkembang sempurna sehingga lebih mudah terinfeksi. Kaum muda juga tampaknya lebih jarang pakai kondom, terlibat perilaku seksual beresiko dan berganti-ganti pasangan.
4. Pengggunaan alkohol
Konsumsi alkohol dapat berpengaruh terhadap kesehatan seksual. Orang yang biasa minum alkohol bisa jadi kurang selektif memilih pasangan seksual dan menurunkan batasan. Alkohol dapat membuat seseorang sukar memakai kondom dengan benar maupun sulit meminta pasangannya menggunakan kondom.
5. Penyalahgunaan obat
Prinsipnya mirip dengan alkohol, orang yang berhubungan seksual di bawah pengaruh obat lebih besar kemungkinannya melakukan perilaku seksual beresiko/tanpa pelindung. Pemakaian obat terlarang juga memudahkan orang lain memaksa seseorang melakukan perilaku seksual yang dalam keadaan sadar tidak akan dilakukan. Penggunaan obat dengan jarum suntik diasosiasikan dengan peningkatan resiko penularan penyakit lewat darah, seperti hepatitis dan HIV, yang juga bisa ditransmisikan lewat seks.
6. Seks untuk uang/obat
Orang yang menjual seks untuk mendapatkan sesuatu posisi tawarnya rendah sehingga sulit baginya untuk menegosiasikan hubungan seksual yang aman. Kemudian, pasangan (pembeli jasa) memiliki resiko terinfeksi PMS yang lebih besar. Jadi, baik pembeli maupun penjual sama-sama dirugikan.
7. Hidup di masyarakat yang prevalensi PMS-nya tinggi
Ketika seseorang tinggal di tengah komunitas dengan prevalensi PMS yang tinggi, ketika berhubungan seksual (dengan orang di komunitas itu) ia lebih rentan terinfeksi PMS.
8. Monogami serial
Monogami serial adalah mengencani/menikahi satu orang saja pada suatu masa, tapi kalau diakumulasi jumlah orang yang dikencani/dinikahi juga banyak. Contoh gampangnya (yang juga banyak terjadi di masyarakat kita) adalah orang yang doyan kawin-cerai. Perilaku begini juga berbahaya, sebab orang yang mempraktekkan monogami serial berpikir bahwa mereka saat itu memiliki hubungan eksklusif sehingga akan tergoda untuk berhenti menggunakan pelindung ketika berhubungan seksual. Sebenarnya monogami memang efektif mencegah PMS, tapi hanya pada monogami jangka panjang yang kedua pasangan sudah dites kesehatan reproduksi.
9. Sudah terkena suatu PMS
Kalau Anda sudah pernah berkenalan langsung dengan suatu PMS (apalagi sering), Anda lebih rentan terinfeksi PMS jenis lainnya. Iritasi atau lepuh pada kulit yang terinfeksi dapat menjadi jalan masuk patogen lain untuk menginfeksi. Karena Anda sudah pernah terinfeksi sekali, bisa jadi ada faktor tertentu dalam gaya hidup Anda yang beresiko.

10. Cuma pakai pil KB untuk kontrasepsi
Kadang orang lebih menghindari kehamilan daripada PMS sehingga mereka memilih pil KB sebagai alat kontrasepsi utama. Karena sudah merasa terhindar dari kehamilan, mereka enggan memakai kondom. Ini bisa terjadi ketika orang tidak ingin menuduh pasangannya berpenyakit (sehingga perlu disuruh pakai kondom) atau memang tidak suka pakai kondom dan menjadikan pil KB sebagai alasan. Yang jelas, perlindungan ganda (pil KB dan kondom) adalah pilihan terbaik…meski tidak semua orang melakukannya.

Prinsip utama dari pengendalian Penyakit Menular Seksual secara prinsip ada dua, yaitu:
·       Memutuskan rantai penularan infeksi PMS
·       Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasi-komplikasinya.

Dengan pencegahan secara tepat dan penganan secara dini PMS bisa ditangani dengan lebih baik. Yang penting sekali diingat adalah bentuk-bentuk gejala awal yang menjadi pertanda PMS, diantaranya :
a.    benjolan atau lecet di sekitar alat kelamin
b.    gatal atau sakit di sekitar alat kelamin
c.     bengkak atau merah di sekitar lat kelamin
d.    rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil
e.    buang air kecil lebih sering dari biasanya
f.      demam, lemah, kulit menguning dan rasa nyeri sekujur tubuh
g.    kehilangan berat badan, diare dan keringat malam hari
h.    keluar cairan dari alat vital yang tidak biasa, berbau dan gatal
i.      pada wanita keluar darah di luar masa menstruasi dll
Bila merasakan gejala-gejala seperti di atas, sebaiknya perlu diwaspadai kemungkinan-kemungkinan adanya infeksi kuman PMS.
Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain :
·       tidak melakukan hubungan seks· tidak berganti-ganti pasangan· menggunakan
     kondom setiap hubungan seks
·       menghindari transfusi darah dengan donor yang tidak jelas asal-usulnya
·       kebiasaan menggunakan alat kedokteran maupun non medis yang steril
Yang lebih penting dari semua itu adalah menjaga nilai-nilai moral, agama, nilai etika dan norma kehidupan bermasyarakat karena dengan moral dan etika yang baik kita akan terhindar dari gangguan atau penyakit yang akan membawa kita dalam masalah serius.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Gambaran Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Kalangan Mahasiswa
    Mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. WHO mendefinisikan remaja adalah mereka dengan rentan usia 18-24 tahun, sementara yang berumur di bawah umur 18 tahun menurut  PBB masih tergololong anak-anak. International Planned Parenthood Federation (IPPF/PKBI), mendefinisikan remaja dengan rentang usia 10-24 tahun (Youth Manifesto, IPPF, 1998). Batasan ini mengacu pada rentang usia di mana perubahan-perubahan psikis dan fisik manusia mulai muncul. Perubahan fisik usia puber akan disertai dengan perubahan psikologis dimunculkan oleh sekresi hormon seks. Pada remaja putra maupun remaja putri, hormon-hormon ini merangsang minat seksual. Meningkatnya kadar hormon jantan (testosteron) akan membuat remaja pria lebih agresif dan bersemangat untuk mencoba hal-hal yang baru.
    Mahasiswa pada usia 18-24 tahun merupakan masa puber yang mengalami perubahan biologis dan memiliki kecenderungan ingin mencoba berbagai hal baru yang berkembang di lingkungannya, contohnya seperti hubungan seksual. Tidak sedikit mahasiswa di Jayapura yang telah berpacaran. Dalam hubungannya dengan penyebaran Penyakit Menular Seksual pacaran memiliki peran penting. Karena hubungan seksual dalam berpacaran memiliki tingkatan seperti tangga-tangga, antara lain :
1.      Memperhatikan Penampilan
Melalui penampilan seseorang, kita dapat mengetahui jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan dan berat badan.
2.      Berpandangan
Ketika berpandangan maka  akan timbul perasaan tertarik antara lawan jenis.
3.      Berbincang-bincang
Dengan berbincang-bincang maka kita mulai saling mengenal, Ini merupakan tahap  awal dari hubungan pertemanan.
4.      Bergandengan tangan
Pada tahap ini mulai tercipta suatu hubungan yang lebih dari sebatas teman.
5.      Berpelukan
Tahap hubungan ini mulai menujukkan perasaan masing-masing.


6.      Berpelukan dengan tangan di pinggang
Hal ini merupakan hubungan romantis dan sudah disebut sebagai pacar yang dapat dijadikan sebagai teman cerita untuk berbagi rahasia.
7.      Mencium pipi
Tahap ini, kita semakin dekat dan mulai mengenal bahasa tubuh dan pribadi masing-masing.
8.      Mencium bibir
Timbulnya keinginan seksual dan menjadi faktor yang pasti dalam hubungan atau suatu ikatan yang merangsang secara seksual.
9.      Bercumbu dengan busana
Adanya keinginan seksual atau rangsangan seksual tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
10.  Bercumbu tanpa busana
Tahap ini seharusnya dilakukan ketika sudah menikah.
11.  Bersentuhan Kelamin
Masih ragu melakukan hubungan seksual
12.  Berhubungan seksual
Melakukan hubungan seksual yang memungkinkan terjadinya penularan PMS

     Tidak sedikit mahasiswa yang menjadi seorang penular PMS atau yang menjadi korban karena berpacaran. Namun tidak semua hubungan berpacaran memiliki dampak yaitu hubungan seksual. Ada terdapat hubungan pacaran yang menimbulkan respon positif bagi sepasang pasangan tersebut, contohnya seperti semangat belajar, berpenampilan lebih rapi, saling memotivasi, saling membantu dan berbagai hal positif lainnya.

     Terdapat beberapa faktor yang mendukung terjadinya hubungan seksual dalam berpacaran sehingga memungkinkan semakin meluasnya penyebaran Penyakit Menular Seksual di kalangan mahasiswa di Jayapura, antara lain:
a.    Lamanya menjalin hubungan
Hubungan yang berlangsung lama akan membuat perasaan saling memiliki antara kedua pasangan yang sedang menjalin hubungan tersebut. Tidak hanya sepasang pasangan tersebut melainkan juga antara keluarga setiap pasangan. Sehingga tidak heran banyak mahasiswa yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan dengan pasanganya tanpa memikirkan dampak terjadinya PMS pada dirinya sendiri dan masa depan dirinya sendiri.
b.    Takut Kehilangan
Jika sepasang kekasih menjalin hubungan dan satu pihak memiliki perasaan yang berlebihan dalam mengasihi pasangannya dan tidak ingin melepaskan pasangannya. Hal ini memungkinkan hubungan yang tidak berdasarkan akal sehat. Salah satu pihak cenderung takut kehilangan sehingga rela memberikan apapun yang diinginkan pasangannya. Tidak cukup berupa materi melainkan juga memberikan kesuciannya tanpa berpikir panjang.
c.     Tempat Berpacaran
Saat menjalin hubungan berpacaran banyak pasangan yang sering menghabiskan malam minggu bersama. Pemilihan tempat berpacaran cenderung sangat berperan penting dalam mempertahankan hubungan yang benar. Jika memilih tempat berpacaran seperti rumah sewa, kamar sewa, dan tempat-tempat yang sepi maka tidak menutup kemungkinan banyak hubungan berpacaran yang menuju pada hubungan seksual. Apalagi jika tanpa sepengetahuan pasangannya salah satu pihak sedang terjangkit PMS. Penyakit tersebut akan menular dan penyesalan akan menjadi sangat terlambat.
d.    Jauh dari Pengawasan Keluarga
Hubungan yang dijalani tanpa sepengetahuan orang tua tentunya merupakan hubungan yang salah. Tidak sedikit mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua dan menjalin hubungan tanpa sepengetahuan dari orang tua atau keluarga terdekat. Padahal bisa saja hubungan yang dijalani adalah dengan pihak yang sedang terjangkit PMS. PMS tidak hanya menular dari hubungan seksual tapi juga dari berciuman. Maka perhatian orang tua dalam menjalin hubungan dengan orang lain merupakan hal yang wajib.

B. Faktor Resiko Kejadian PMS Pada Komunitas Mahasiswa
                                                  Beberapa faktor yang menunjang penyebaran penyakit seksual melalui hubungan seksual pada komunitas mahasiswa, adalah:
1.      Pergaulan
Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Jika memilih teman yang memiliki kebisaan suka melakukan hubungan seksual, narkoba, ganja, dan berbagai kebiasaan buruk lainnya, tentu saja memungkinkan mahasiswa yang sedang menjalin hubungan menganggap remeh tentang penyebaran penyakit seksual yang sedang beredar di Jayapura ini.
2.      Tinggal Di Rumah/ Kamar sewa
Sebagian besar mahasiswa di Jayapura tinggal di rumah sewa atau kamar sewa. Tidak sedikit rumah sewa atau kamar sewa yang bebas aturan. Maka mudah bagi tempat-tempat tersebut menjadi sarang penyebaran penyakit seksual bahkan narkotika.
3.      Kurang Kesadaran Diri
Kurangnya kesadaran diri dari masing-masing mahasiswa akan kewajibannya, tanggungjawabnya dan masa depannya dapat menyebabkan berbagai hal. Salah satu contonya, misalkan saja mahasiwa kurang menyadari kewajibannya berkuliah. Mahasiswa tersebut tentu memiliki banyak waktu kosang atau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak penting seperti berkumpul dengan teman-teman, pergi ke tempat lain untuk mencari hiburan atau menghabiskan waktu berduaan dengan berpacaran. Hal ini tentu saja menjadi faktor pemicu hubungan seksual dan penularan PMS di kalangan mahasiswa.
4.      Tuntutan Kebutuhan
Tanpa kita sadari di lingkungan perkuliahan ini, banyak terdapat mahasiswa yang tidak mampu. Lalu mereka meminta bantuan teman atau berbagi curahan hati kepada teman terdekat. Jika salah berbagi masalah, mahasiswa akan dihadapkan dengan dunia malam untuk mendapatkan biaya unutk memenuhi kebutuhannya. Apalagi tawaran yang ditawarkan tidak sedikit tapi dalam jumlah yang besar. Sehingga mahasiswa mulai menjadi pekerja seks dan menjadi salah satu perantara PMS.
5.      Media
Jayapura saat ini sudah mulai mengalami perkembangan teknologi, seperti internet. Mudah bagi mahasiswa untuk mengakses gambar-gambar dan video pornografi. Hal ini menyebabkan rasa keingintahuan dalam bentuk praktek dengan sesama ataupun sejenisnya. Maka madia menjadi salah satu faktor penyebar PMS.




DAFTAR PUSTAKA

http://ismorosiyadi.blogspot.com/2011/12/jenis-jenis-penyakit-menular-seksual.html

http://www.lusa.web.id/penyakit-menular-seksual/

http://marhamah123.wordpress.com/2011/03/27/macam-macam-penyakit-menular-seksual-dan-cara-menanggulanginya/

sumber: http://jekethek.blogspot.com/2010/06/tips-mendeteksi-penyakit-seksual.html





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Hmmm... Beri makan peliharaanku donk :D